Menamatkan studi S1 pada 1986, ia kemudian pada 1995 mengambil spesialisasi antropologi hukum pada jenjang master (S2), kerjasama Universitas Leiden dan Universitas Indonesia di Jakarta.
Pada 2009 dia memulai pendidikan doktoralnya di Program Studi Pascasarjana S3 Bidang Hukum di Fakultas Hukum USU dan mempertahankan disertasinya pada 2013 dengan judul “Antan Patah Lesung pun Hilang: Pergeseran Hak Tanah Komunal dan Pluralisme Hukum dalam Perspsektif Sosiolegal: Studi pada Etnis Melayu Deli di Sumatera Utara”.
Selain akademis, minatnya pada aktivitas kemasyarakat terbangun sejak mahasiswa dengan aktif sebagai aktivis di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dia kemudian aktif terlibat dalam gerakan perlindungan anak dan perempuan, lingkungan dan demokrasi di Indonesia, melalui Lembaga Advokasi Anak Indonesia dan Yayasan Pusaka Indonesia. Edy pun tercatat pernah menjabat Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sumut (2002-2005).
Edy merupakan anak ke 5 dari 7 bersaudara, dari ayah Melayu dan ibu bermarga Harahap. Ayahnya seorang guru yang mengajar di 2 sekolah yakni SMP Negeri 9 Medan dan SMP Negeri 14 Medan. Sementara ibunda seorang ibu rumah tangga.
Setelah mempersunting Sri Rahayu Kartini sebagai isteri, pasangan harmonis ini dikaruniai dua orang anak yakni Fadhlillah, SH dan Puan Maharani (mahasiswa semester akhir di Univ Padjajaran).
Pada 2020 Edy Ikhsan bertekad turut andil langsung dalam melakukan perbaikan pembangunan dan masyarakat Kota Medan. Dia menyatakan siap menjadikan Medan dan masyarakatnya lebih manusiawi. Dengan kekuatan yang terhimpun dan pertolongan Allah SWT, Tuhan YME, Edy Ikhsan menegaskan kontestasi Pilkada Medan 2020 adalah perjuangan bersama masyarakat Kota Medan.
Menangkan Edy Ikshan, MEDAN lebih Manusiawi



